saham bri

Inilah Catatan Pendapatan Saham BRI yang Menggiurkan Para Investor

Saham BRI terus melesat dan mampu memberikan keuntungan yang menggiurkan bagi para investor sejak pertama kali IPO. Tercatat setiap tahunnya terjadi kenaikan pendapatan bunga sebesar 9,8%. 

Bahkan Anda yang lima tahun lalu menabung Rp 100 juta, sekarang bisa mendapatkan Rp 225 juta!

BBRI yang merupakan nama saham yang dikeluarkan BRI ini memang sangat populer di kalangan para investor saham. 

Setiap tahunnya sejak dikeluarkannya IPO dan tercatat dalam BEI pada 2003 nilai saham dari salah satu bank tertua di Indonesia ini terus meningkat. Nah bagaimana perjalanan BRI ini hingga sekarang?

Pertama Kali BRI Go Publik

Sebelumnya BRI menjadi sebuah perusahaan dengan status perseroan terbatas pada 1992 dengan kepemilikan saham 100% milik pemerintah. 

Sepuluh tahun kemudian, bank ini sudah dianggap layak untuk menjadi perusahaan IPO (initial public offering). Tepatnya pada 31 Oktober 2003 dengan melepaskan saham sebesar 30% kepada masyarakat.

Nilai 30% saham BRI pada waktu itu sekitar 3.811.765.000 lembar dengan harga Rp 875. Minat masyarakat terhadap saham ini sangat besar. Saat itu bahkan langsung habis terjual dan terjadi oversubscribed.

Pada 10 November 2003 saham BBRI ini masuk kedalam Bursa Efek Indonesia dan berubah nama menjadi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sampai sekarang. Sejak dicatatkan pada BEI jumlahnya meningkat menjadi 4.764.705.000 lembar saham.

Perkembangan Saham BRI

Perusahaan yang menjadi salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini pada 2019 lalu tercatat menjadi bank yang memiliki aset terbesar. Jumlah aset tersebut diperkirakan mencapai Rp 483,52 triliun.

Saat pertama kali keluar nilai saham tiap lembarnya adalah Rp 875, yaitu sejak dicatatkan dalam BEI pada 10 November 2003. Hingga sekarang returnnya sudah meningkat hingga 3.116 kali. Jadi bisa dibayangkan ketika saat itu Anda berinvestasi Rp 1 juta, sekarang nilainya menjadi Rp 3,1 miliar.

Pendapatan atau return tersebut dihasilkan dari keuntungan capital gain, sekaligus dividen. Selama sepuluh tahun terakhir bank ini selalu rutin untuk membagikan pendapatan tersebut kepada para investornya.

Sekarang ini harga saham tiap lembarnya berkisar pada Rp 4.280-an. Jauh meningkat sebesar hampir lima kali lipat dari harga awalnya, Rp 875. BBRI juga pernah dua kali split pada 2011 dan 2017. 

Dengan menghitung semua pendapatan tersebut tidak heran jika investor yang sejak awal pada 2003 berinvestasi mengalami kenaikan lebih dari 3 ribu kali.

Fundamental BRI yang Kuat

Stabilnya harga saham BBRI tentunya tidak lepas dari aspek fundamental yang menyokong bank ini. Aspek tersebut berasal dari pendapatan bunga, non bunga, penyaluran kredit, dan lainnya.

Dari berbagai aspek tersebut ada 3 hal yang membuat BRI tetap bertahan. Yaitu net interest income atau pendapatan bunga bersih, non bunga atau fee based income, dan penyaluran kredit.

Tercatat dalam kurun lima tahun, antara 2015 hingga 2019 BRI mendapatkan bunga bersih sebesar 9,9% pertahun. Pendapatan ini merupakan pendapatan yang utama dalam bisnis perbankan.

Untuk pendapatan non bunga di kisaran rentang tahun yang sama, BRI selalu tumbuh tiap tahunnya sebesar 19,7%. Pendapatan ini berasal dari kartu kredit, bisnis internasional, dan e banking.

Sedangkan pada pendapatan penyaluran kredit, BRI dianggap menjadi yang terbesar di Indonesia. Antara 2015 hingga 2019 tercatat pertumbuhannya 8,3% tiap tahunnya.

Segmentasi usaha mikro dan kecil menjadi yang terbesar, hingga 50%. Sisanya merupakan korporat 22,3%, consumer 16%, dan sisanya medium corporate.Itulah mengapa saham BRI selalu menjadi pilihan para investor dari dulu hingga sekarang. Dengan melihat catatannya yang begitu positif, dan kuatnya fundamental dalam perusahaan, tidak heran produk investasi dari BRI ini selalu diminati.