Saham perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi pastinya menjadi incaran banyak investor. Begitu juga dengan saham Telkomsel yang masuk dalam kepemilikan PT. Telkom, selalu mencatatkan pendapatan besar setiap tahunnya bahkan melebihi induknya sendiri.

Melihat masa depan yang akan tergantung pada bidang telekomunikasi, pastinya memunculkan banyak minat untuk memiliki saham ini. Namun hingga hari ini Telkomsel sendiri belum melakukan IPO dan listing di BEI. Nah, bagaimana sebenarnya status saham dari anak perusahaan Telkom ini?

Siapa Pemegang Saham Telkomsel?

Telkomsel sendiri sebenarnya belum terdaftar di BEI hingga sekarang. Perusahaan yang masuk dalam bidang telekomunikasi seluler ini menjadi anak perusahaan Telkom dengan kepemilikan saham sebesar 65%.

Sedangkan sisa saham Telkomsel dimiliki oleh investor asing, yaitu Singapore Telecom Mobile (Singtel Mobile). Perusahaan merupakan milik BUMN pemerintah Singapura yang bernama Temasek.

Karena kepemilikan atas Telkomsel ini tidak sepenuhnya, keinginan untuk melakukan IPO juga tidak bisa dilakukan. Apalagi disisi lain Singtel ingin terus mempertahankan kepemilikannya meskipun pemerintah Indonesia terus mengajukan penawaran pembelian saham Telkomsel.

Meski dengan statusnya seperti itu, Telkomsel memberikan kinerja yang terhitung sangat baik. Perusahaan ini mampu menjangkau lebih dari 90% penduduk di Indonesia, tercatat dengan berhasilnya mendapatkan pelanggan sebesar 171,1 juta.

Laporan keuangan di tahun 2019 Telkomsel mampu memberikan pendapatan sebesar Rp 58,2 triliun, naik dari tahun sebelumnya sebesar 23,1%. Angka tersebut merupakan 70% dari penghasilan keseluruhan Telkom sendiri.

Cara Memiliki Saham Telkomsel

Untuk menjadi pemegang saham dari Telkomsel tentunya tidak bisa secara langsung, karena alasan belum melakukan IPO dan juga belum tercatat di BEI. Satu-satunya cara adalah dengan ikut memiliki saham Telkom yang bernama TLKM.

TLKM sendiri memiliki kinerja yang cukup baik. Hal ini ditunjukkan dari stabilnya perusahaan meski di tengah isu politik yang sangat kuat di Indonesia dan perang dagang antara Tiongkok dan Amerika pada 2019 lalu.

Dalam masa yang berat tersebut TLKm masih bisa mendapatkan laba yang sangat besar, bahkan tumbuh dari tahun sebelumnya sebesar 3,5%.

Tidak hanya kestabilan dalam menghadapi masa sulit, kedepannya perusahaan plat merah ini juga terus mengembangkan infrastruktur yang menyeluruh. Bahkan berhasil mengakuisisi 95% tower dari PT Persada Sokka Tama yang berjumlah 1.017. belum lagi sejumlah 2.100 tower milik PT Indosat Tbk.

Kondisi Saham Saat Pandemi

Hampir semua perusahaan terkena imbas pandemi coid 19, termasuk dengan Telkomsel. Bagi Anda yang ingin menjadi salah satu pemegang saham Telkomsel, saat pandemi seperti ini adalah waktu yang tepat. Karena kondisi sekarang ini harga saham menjadi lebih murah.

Meski kondisi saham sedang tidak baik, prediksi kedepannya akan terus membaik. Mengingat bidang usaha yang dijalankan oleh Telkom ini terus menjadi kebutuhan masyarakat di masa yang akan datang. Pesatnya kemajuan telekomunikasi dan digital membuat kebutuhan terhadap akses internet dan data semakin besar.

Bisa dilihat pada saat pandemi, hampir setiap pekerjaan yang sebelumnya bisa bertatap muka secara langsung, sekarang harus melalui media jarak jauh. Semua itu membutuhkan akses internet yang cepat dan stabil. Dan hanya Telkomsel yang memiliki jaringan paling luas secara menyeluruh di Indonesia.Saham Telkomsel memang belum bisa dimiliki secara langsung karena belum melantai di BEI. Namun tetap saja tren positif dari saham TLKM membuat para investor begitu berminat untuk memilikinya. Apalagi potensi pertumbuhan perusahaan telekomunikasi di masa depan akan terus meningkat setiap tahunnya.