Cara Mengelola Finansial di Masa Covid

cara mengelola finansial di masa covid

Lebih dari 6 bulan lamanya warga dunia diliputi pandemi Covid-19 yang mulai muncul di akhir tahun 2019 lalu. Tidak saja mengancam kesehatan warga dunia, pandemi ini juga melumpuhkan sektor ekonomi suatu negara. Maka dari itu, cara mengelola finansial di masa covid ini penting dilakukan.

Agar dampak ekonomi dari pandemi ini bisa diminimalisir, sebaiknya Anda mulai mengatur keuangan dari sekarang. Selain untuk menjamin kebutuhan Anda selama beberapa bulan ke depan, mengatur keuangan juga perlu dilakukan untuk sekedar berjaga-jaga.

Cara Mengelola Finansial di Masa Covid

Akibat pandemic Covid-19 yang melanda Indonesia selama lebih dari 6 bulan ini, membuat banyak pihak yang kini kehilangan pekerjaan dan harus menganggur. Untuk itu, di tengah ketidakpastian ekonomi seperti saat ini, beberapa cara pengelolaan keuangan berikut bisa diterapkan:

1.     Atur Pengeluaran Anda

Salah satu upaya untuk menjaga keuangan tetap sehat adalah dengan mengatur pengeluaran. Lakukan analisis terhadap hal-hal apa yang penting dan tidak penting sehingga pengeluaran yang Anda lakukan menjadi lebih efektif.

Catat semua pengeluaran bulanan yang harus Anda bayar dan bersifat penting, seperti biaya listrik, biaya pendidikan anak, kebutuhan makanan, dll. Mulai kurangi biaya bulanan yang dirasa kurang penting, seperti layanan TV kabel, membership di sebuah gym, minimarket, dll.

2.     Utamakan Kebutuhan Pokok

Pastikan kebutuhan utama Anda terpenuhi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membeli kebutuhan tambahan lainnya. Terkadang orang masih terbiasa dengan pola belanja di masa normal sehingga pemenuhannya menjadi kurang tepat.

Sebagai contoh, saat berada di masa normal Anda biasanya membeli makan siang di luar saat jam istirahat kerja. Di masa covid ini, cobalah untuk memasak sendiri di rumah. Hal ini bisa membuat anggaran untuk makanan menjadi lebih hemat.

3.     Siapkan Dana Darurat

Selalu sediakan dana darurat untuk berjaga-jaga karena kondisi ekonomi yang sedang tidak pasti. Banyak ahli keuangan menyarankan agar Anda memiliki dana darurat setidaknya 6 kali jumlah kebutuhan tiap bulannya.

Untuk itu, jika Anda masih memiliki uang lebih, alokasikan uang tersebut untuk ditabung. Jika hal ini terasa berat, cobalah untuk memulainya dari nominal yang kecil terlebih dahulu. Baru kemudian menambahkannya secara bertahap.

4.     Cari Hiburan yang Hemat

Berada di rumah selama berbulan-bulan kerap sekali membuat seseorang merasa bosan. Saat Anda memerlukan hiburan, carilah hiburan yang lebih hemat biaya. Salah satunya, jika bisa menemukan hiburan hanya dari internet, maka Anda tidak perlu mencari hiburan lain yang memakan biaya.

Terkadang media hiburan memang membuat kita mau mengeluarkan biaya untuk mengaksesnya. Seperti pada media streaming film yang kian digemari oleh orang-orang. Tanamkan pada diri Anda bahwa tercukupi kebutuhan pokok di masa pandemi ini lebih menyenangkan dari hiburan tersebut.

5.     Manfaatkan Internet

Di masa pandemi ini, aktivitas dunia internet menjadi semakin tinggi karena adanya pembatasan sosial di luar rumah. Anda bisa memanfaatkan momen ini untuk menjalankan bisnis di internet, mulai dari usaha dropship, mengambil pekerjaan online, dll.

Tidak sedikit orang yang justru mendapatkan pendapatan lebih tinggi di masa pandemi ini. Untuk itu, teruslah mencari peluang bisnis yang bisa dilakukan di internet tanpa harus mengganggu pekerjaan utama Anda.

6.     Hidup Hemat

Jika memang Anda sudah dihadapkan pada kondisi keuangan yang menipis, hidup hemat adalah hal yang harus Anda lakukan. Anda bisa mengevaluasi semua tindakan yang bisa mengurangi pengeluaran.

Beberapa hal bisa Anda lakukan, seperti menghemat air agar tidak sering menggunakan pompa, menghemat listrik dengan menggunakan barang elektronik seperlunya, memasak di rumah, hemat internet hanya untuk kebutuhan kerja dan hiburan ringan seperti media sosial, dll.

 

Menerapkan cara mengelola finansial di masa covid seperti saat ini adalah hal yang sangat penting, di samping harus selalu menerapkan protokol kesehatan. Hal ini karena kondisi ekonomi di Indonesia bahkan dunia yang tidak bisa dipastikan arah kebangkitannya